Di saat harga plastik melonjak akibat ketidakstabilan pasokan minyak bumi global, sebuah pertanyaan besar kembali menguat: apakah sudah saatnya Indonesia serius beralih ke alternatif yang lebih mandiri dan berkelanjutan? Dua kandidat utama menjawab pertanyaan tersebut adalah bioplastik dan plastik daur ulang. Keduanya bukan sekadar wacana lingkungan hidup semata, melainkan solusi praktis yang kini dianggap semakin relevan untuk mengurangi kerentanan industri plastik nasional terhadap gejolak harga komoditas global.
Akar Masalah: Ketergantungan Fosil yang Sangat Dalam
Wegik Dwi Prasetyo, S.T., M.T., pakar petrokimia Universitas Pertamina (UPER), menggambarkan bagaimana industri plastik Indonesia saat ini terjebak dalam lingkaran ketergantungan bahan baku fosil yang sangat dalam. Plastik konvensional dibuat dari olefin, yang dihasilkan dari nafta, yang bersumber dari minyak mentah. Seluruh rantai ini bergantung pada ketersediaan dan harga minyak bumi global.
Persoalannya, produksi nafta domestik Indonesia hanya mencapai 7,1 juta ton per tahun, sementara kebutuhan industri mencapai 9,2 juta ton. Defisit 2,1 juta ton tersebut wajib dipenuhi melalui impor, sebagian besar dari kawasan Timur Tengah. Ketika kawasan itu bergejolak akibat konflik geopolitik, seperti yang terjadi belakangan ini, harga bahan baku naik tajam dan industri dalam negeri langsung terdampak.
Bioplastik: Plastik yang Tumbuh dari Bumi
Bioplastik adalah plastik yang dibuat dari bahan baku terbarukan seperti pati singkong, tebu, jagung, atau minyak nabati—bukan dari minyak bumi. Keunggulan utamanya adalah tidak bergantung pada fluktuasi harga minyak mentah global. Indonesia, sebagai negara agraris dengan kekayaan sumber daya hayati yang melimpah, sebenarnya memiliki potensi besar untuk mengembangkan industri bioplastik.
Wegik menegaskan bahwa percepatan produksi bioplastik menjadi salah satu kunci untuk mengurangi ketergantungan pada rantai pasok global yang tidak stabil. Namun, pengembangan bioplastik di skala industri membutuhkan riset mendalam, investasi infrastruktur, dan dukungan kebijakan yang konsisten. Biaya produksi bioplastik saat ini masih lebih tinggi dibanding plastik konvensional, sehingga diperlukan insentif dan skala ekonomi yang memadai agar dapat bersaing.
Plastik Daur Ulang: Menutup Lingkaran Material
Sementara bioplastik menawarkan alternatif bahan baku, plastik daur ulang menawarkan solusi berbeda: memanfaatkan kembali material plastik yang sudah ada agar tidak perlu memproduksi plastik baru dari bahan baku segar. Dalam konteks keterbatasan nafta dan volatilitas harga minyak, industri daur ulang plastik yang kuat dapat menjadi penopang penting ketahanan bahan baku nasional.
Indonesia menghasilkan jutaan ton limbah plastik setiap tahunnya. Sebagian besar masih berakhir di tempat pembuangan akhir atau bahkan di lingkungan. Jika infrastruktur pengumpulan, pemilahan, dan pengolahan limbah plastik diperkuat, Indonesia bisa memiliki suplai bahan baku daur ulang yang cukup signifikan untuk mengurangi kebutuhan impor nafta. Ini sekaligus menjadi solusi ganda: mengatasi masalah sampah plastik dan memperkuat ketahanan industri.
Peran Akademisi dan Program GGINP
Universitas Pertamina (UPER) menunjukkan komitmen nyata dalam mendorong transisi ini. UPER telah ditunjuk sebagai pelaksana nasional (national executing agency) untuk The Global Greenchem Innovation and Network Programme (GGINP), sebuah program kolaborasi internasional yang melibatkan Yale University, UNIDO, GEF, dan Kementerian Perindustrian. Program ini bertujuan mempercepat penerapan kimia hijau (green chemistry) di industri nasional untuk mengurangi ketergantungan pada bahan baku fosil.
Raden Panji Adhitiyo Putera, Sekretaris Universitas Pertamina, menyatakan bahwa komitmen ini juga diwujudkan melalui penguatan kurikulum program studi Teknik Kimia dengan peminatan Sistem Proses Kimia Berkelanjutan dan Rekayasa Energi. Tujuannya adalah mencetak lulusan yang tidak hanya paham teori, tetapi juga mampu berinovasi selaras dengan agenda pembangunan berkelanjutan global, khususnya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin 9 tentang industri inovatif dan poin 12 tentang konsumsi-produksi yang bertanggung jawab.
Krisis bahan baku plastik yang dipicu gejolak geopolitik ini sejatinya menjadi momen pengingat bahwa transformasi menuju industri berbasis bahan baku berkelanjutan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak. Dan dalam perjalanan itu, bioplastik serta daur ulang adalah dua pilar yang tidak bisa diabaikan.
Untuk melihat daftar program studi dan informasi pendaftaran terbaru, Anda dapat langsung mengakses laman resmi admisi Universitas Pertamina melalui https://pmb.universitaspertamina.ac.id/admisi?src=101 dan mulai merencanakan langkah akademik terbaik Anda.
