Ada sebuah kontinuitas yang indah dalam sejarah perjuangan perempuan Indonesia. Raden Adjeng Kartini, lebih dari satu abad lalu, berjuang dengan pena dan surat-suratnya untuk membuka akses pendidikan bagi kaum perempuan. Kini, para penerusnya berjuang dengan alat ukur, simulasi komputer, dan publikasi ilmiah untuk memecahkan masalah terbesar yang pernah dihadapi peradaban manusia: krisis iklim dan ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Di Universitas Pertamina (UPER), enam peneliti perempuan membuktikan bahwa emansipasi bukan sekadar soal hak—ia adalah soal tanggung jawab dan kontribusi. Mereka tidak hanya memanfaatkan pintu yang telah dibuka oleh para pendahulunya; mereka membangun jalan baru menuju masa depan energi Indonesia yang lebih bersih, adil, dan mandiri.
Ketika 32 Persen Menjadi Lebih dari Sekadar Angka
Laporan IRENA 2025 mencatat representasi perempuan di sektor energi terbarukan global telah mencapai 32 persen, dengan 19 persen menempati posisi kepemimpinan. Angka-angka ini mencerminkan pergeseran yang perlahan namun pasti: bahwa industri energi—yang secara historis didominasi laki-laki—kini semakin menyadari bahwa keberagaman gender bukan sekadar nilai etis, melainkan keunggulan kompetitif.
Penelitian menunjukkan bahwa tim yang beragam menghasilkan solusi yang lebih inovatif dan komprehensif. Dalam konteks transisi energi yang membutuhkan pendekatan multidimensi—teknis, sosial, ekonomi, dan lingkungan sekaligus—keberagaman perspektif bukan kemewahan, melainkan keharusan.
Geologi: Ilmu Bumi yang Menjaga Langit Tetap Bersih
Dr. Dumex Sutra Pasaribu membawa semangat eksplorasi Kartini ke kedalaman bumi. Risetnya tentang pemodelan struktur geologi menjadi fondasi bagi teknologi penyimpanan karbon (CCS/CCUS)—sebuah metode yang menyimpan emisi CO₂ di bawah tanah agar tidak terlepas ke atmosfer. Ironis namun indah: ilmu yang lahir dari industri minyak kini menjadi kunci untuk membersihkan warisan polusinya.
Sama seperti Kartini yang memahami bahwa pendidikan harus dimulai dari fondasi yang kuat, Dr. Dumex memahami bahwa transisi energi yang aman harus dimulai dari pemahaman mendalam tentang stabilitas bumi tempat teknologi itu dibangun.
Sains yang Berangkat dari Kepedulian
Jika Kartini menulis tentang kepedihan melihat perempuan-perempuan yang terbelenggu adat, Dr. Nonni Soraya Sambudi menulis jurnal ilmiah tentang polutan yang mencekik ekosistem. Riset nanomaterial dan fotokatalisnya tidak berangkat dari ambisi akademis semata, tetapi dari kepedulian mendalam terhadap kondisi lingkungan yang diwarisi generasi mendatang.
Pengakuan Stanford University atas karyanya sebagai salah satu ilmuwan paling berpengaruh di dunia adalah konfirmasi bahwa kepedulian yang tulus, jika diwujudkan melalui kerja keras ilmiah, mampu menghasilkan dampak yang melampaui batas negara dan benua.
Memastikan Kemajuan Tidak Meninggalkan Sampah
Dr. Nila T. Berghuis dan Dr. Mega Mutiara Sari berbagi visi yang serupa: kemajuan teknologi tidak boleh menciptakan problem baru yang lebih besar dari yang dipecahkannya. Dr. Nila fokus pada daur ulang baterai kendaraan listrik—memastikan revolusi mobilitas bersih tidak berakhir dengan gunung limbah logam berat. Dr. Mega fokus pada konversi sampah menjadi energi—memastikan kota-kota Indonesia yang bergumul dengan krisis sampah dapat menemukan solusi yang sekaligus menghasilkan manfaat ganda.
Bahasa Sains, Suara Rakyat
Kartini percaya bahwa pendidikan harus menjangkau semua orang, bukan hanya kaum ningrat. Dr. Farah Mulyasari mewarisi keyakinan itu dalam konteks modern: ilmu pengetahuan dan kebijakan energi harus bisa dipahami oleh semua lapisan masyarakat. Tanpa komunikasi yang efektif, jarak antara laboratorium riset dan kehidupan nyata masyarakat tidak akan pernah terjembatani.
Dr. Eka Puspitawati melengkapi narasi ini dengan perspektif ekonomi yang membumi. Transisi energi yang adil harus mempertimbangkan daya beli masyarakat, stabilitas harga, dan dampak terhadap kelompok rentan secara ekonomi. Kebijakan hijau yang hanya bisa dinikmati oleh yang mampu bukanlah transisi yang sejati.
Pjs. Rektor UPER, Prof. Dr. techn. Djoko Triyono, menyebut keenam peneliti ini sebagai Kartini masa kini yang tidak hanya mengajar di kelas, tetapi merancang langsung cetak biru kemandirian energi bangsa. Sebuah penghormatan yang rasanya tepat: sebab warisan sejati Kartini bukan sekadar tanggal merah di kalender, melainkan gerakan tanpa henti dari mereka yang menggunakan pengetahuannya untuk menerangi jalan bagi orang banyak.
Untuk melihat daftar program studi dan informasi pendaftaran terbaru, Anda dapat langsung mengakses laman resmi admisi Universitas Pertamina melalui https://pmb.universitaspertamina.ac.id/admisi?src=101 dan mulai merencanakan langkah akademik terbaik Anda.
